Belajar dari penjual Krupuk
Diposting oleh THORIQ | 09.19.00 |Label: Cerita Kisah nyata
Cerita ini saya ambil dari website Pak Yanto, Ketua STMIK AMIKOM Yogyakarta. Semoga dapat menginspirasi kita semua… amiin..
——————————————————————————————————————————–
Pelajaran ketiga yang saya peroleh dari penjual krupuk adalah pelajaran yang sangat luar biasa, pelajaran dari salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia versi Michael Hart. Seminggu kemudian penjual krupuk itu datang kembali ke rumah saya. Seperti biasanya, datang dengan sepeda ontel yang ditemani dua plastik besar yang berisi krupuk dan selalu menebar senyum, nampak bahagia di wajahnya. Ketika tiba di rumah, saya telah berangkat ke kantor, penjual krupuk itu ditemui oleh istri saya. Setelah istri saya menyerahkan kaleng krupuk, penjual krupuk itu mengisi kaleng tersebut seperti biasanya dan selalu memberi kelebihan. “Ini bu krupuknya,” katanya sambil menebar senyum. “Ini pak uangnya” kata istri saya sambil memberikan uang Rp 20.000, kemudian penjual krupuk tersebut berusaha mengembalikan uang tersebut “Ini kembaliannya bu” katanya. “Sudah untuk bapak saja” kata istri saya. “Tidak bu, ini terlalu banyak” jawab penjual krupuk sambil ngotot untuk mengembalikan sisa uangnya. “Kalau bapak tidak mau, untuk minggu depan saja” kata istri saya. Jawaban yang sangat mengejutkan dan istri saya tidak menduga dilakukan oleh penjual krupuk tersebut,
“Tidak bu, saya nanti berutang bu, saya tidak bisa menjamin apakah usia saya sampai minggu depan”. Istri saya termangu mendengar jawaban sang penjual krupuk itu dan setelah makan malam hal itu diceritakan kepada saya. Saya teringat kisah Khalifah Umar bin Khattab dan anaknya. Pada suatu hari anak Umar bin Khattab pulang dari sekolah dengan menangis. Ketika ditanya oleh Khalifah, anak itu menjawab: ”Teman-temanku di sekolah menghitung-hitung tambalan bajuku dan mengejekku, kata mereka: Lihatlah anaknya Amirul Mu’minin bajunya tambalan seperti ini.” Mendengar pengaduan anaknya itu timbullah rasa kasihan dalam hati Khalifah Umar terhadap anaknya. Oleh karena itu beliau mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya agar beliau dipinjami uang sebanyak empat dirham, dengan jaminan gajinya bulan depan supaya dipotong. Maka bendaharawan negara itu mengirim surat jawaban yang berisikan: ”Wahai Umar, adakah engkau telah memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan? Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi utangmu? Apa yang akan kamu perbuat terhadap utangmu itu di hadapan Allah? Membaca surat itu, maka Khalifah Umar segera tersungkur menangis, lalu berkata kepada anaknya: ”Berangkatlah engkau wahai anakku ke sekolah sebagaimana biasanya, karena aku tidak dapat memperhitungkan umurku walaupun hanya satu jam lagi. Sang penjual krupuk telah memberikan pencerahan kepada kita yang sering lupa dengan kematian. Kadangkala tanpa ingat kematian kita berbuat dengan segala cara dalam bisnis. Sang penjual krupuk mengingatkan kita untuk berbuat terbaik dalam bisnis sebagai ibadah yang kita persembahkan kepada Allah yang Maha Pemurah. q - o *) M Suyanto, Ketua STMIK Amikom.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar